<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>:: Yayasan Perpustakaan Indonesia ::</title>
	<atom:link href="http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pustakaindonesia.org</link>
	<description>Yayasan Perpustakaan Indonesia</description>
	<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 08:41:24 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=356</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=356#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 08:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[ Pimpinan dan Seluruh Staff YPPI Mengucapkan :
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Minal ‘aidin Wal faizin
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><a href="http://3.bp.blogspot.com/_ggaK5nMXCk8/TH89tHht1WI/AAAAAAAAAHE/thpzYU83iF0/s1600/kuning+background+buku.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512192314248648034" style="display: block; margin: 0px auto 10px; width: 200px; height: 200px; text-align: center;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ggaK5nMXCk8/TH89tHht1WI/AAAAAAAAAHE/thpzYU83iF0/s200/kuning+background+buku.jpg" border="0" alt="" /></a> <strong>Pimpinan dan Seluruh Staff YPPI Mengucapkan :</strong></div>
<div style="text-align: center;"><strong>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H</strong></div>
<div style="text-align: center;"><strong>Minal ‘aidin Wal faizin</strong></div>
<div style="text-align: center;"><strong>Mohon Maaf Lahir dan Bathin</strong></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=356</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Menjalankan Ibadah Puasa</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=355</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=355#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 03:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<category><![CDATA[kartu ucapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[
Pimpinan  dan seluruh Staff YPPI Mengucapkan : 
Selamat  Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1431 H , Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="separator" style="clear: both; border: medium none; text-align: center;"><a style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" href="http://2.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TGIZg_ZmiNI/AAAAAAAACMY/7iOviw3Chnw/s1600/ucapan+sesuai+polling.jpg"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TGIZg_ZmiNI/AAAAAAAACMY/7iOviw3Chnw/s320/ucapan+sesuai+polling.jpg" border="0" alt="" /></a><strong></strong></div>
<div class="separator" style="clear: both; border: medium none; text-align: center;"><strong>Pimpinan  dan seluruh Staff YPPI Mengucapkan : </strong></div>
<div class="separator" style="clear: both; border: medium none; text-align: center;"><strong>Selamat  Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1431 H , Mohon Maaf Lahir dan Bathin.</strong></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=355</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perpustakaan vs Google</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=351</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=351#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 07:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Ketika jaman teknologi informasi sudah maju seperti sekarang ini, masih pentingkah perpustakaan? Informasi macam apapun yang diperlukan, sekarang dengan mudah dicari dengan mesin pencari di internet, bernama Google. Meski perpustakaan masih tetap memiliki banyak kelebihan, toh Oom Google ini menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan.
Kehadiran internet dengan si Google ini memang merupakan revolusi dalam dunia ilmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika jaman teknologi informasi sudah maju seperti sekarang ini, masih pentingkah perpustakaan? Informasi macam apapun yang diperlukan, sekarang dengan mudah dicari dengan mesin pencari di internet, bernama Google. Meski perpustakaan masih tetap memiliki banyak kelebihan, toh Oom Google ini menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan.<span id="more-351"></span></p>
<p>Kehadiran internet dengan si Google ini memang merupakan revolusi dalam dunia ilmu pengetahuan. Para guru harus berpacu sedemikian rupa dengan murid-muridnya dalam hal penguasaan informasi. Kalau guru masih merepresentasikan sebagai sosok yang paling tahu, pasti dengan mudah dapat “dikalahkan” oleh siswa. Sampai-sampai ada olok-olok, ketika siswa sudah sarapan Google, guru masih sarapan nasi pecel.</p>
<p>R Arifin Nugroho pernah menulis di Harian Kompas, guru bukan sekadar pesaing dari Google sebagai alat mentransfer ilmu pengetahuan. Guru memiliki peran lebih untuk menyempurnakan kehidupan seorang pribadi agar serupa dengan Sang Khalik. Tidak hanya menjadikan siswa having, melainkan being.<br />
Seperti dalam agama Hindu, guru bukan saja dinobatkan sebagai sang pembagi ilmu, tetapi sebagai tempat suci yang berisi ilmu (vidya). Hal ini semakin menguatkan peran guru yang sangat mulia.<br />
Guru masih lebih unggul daripada Google karena guru mampu mengajarkan sisi humanis yang tidak dapat diberikan mesin pencari secanggih apa pun. Dalam kehidupan nyata tidak hanya diperlukan berlimpahnya ilmu pengetahuan dalam otak, tetapi juga sisi manusiawi agar bisa memanusiawikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan memanusiawikan manusia saat berelasi dengan pribadi lain.</p>
<p>Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta itu juga menulis, bahwa pemahaman kita perlu disegarkan kembali bahwa teknologi hanyalah hasil akhir dari ilmu pengetahuan yang bersifat material, bisa rusak, bisa berubah, dan suatu saat bisa tidak bermanfaat. Karena itu, interaksi antarmanusia yang didasari kontak teknologi belaka akan terasa kering karena bersandar pada nilai material. Pendidikan tidak dapat bersandar pada teknologi semata, melainkan juga harus melibatkan hati yang dimiliki setiap pribadi manusia.</p>
<p>Hanya saja, meski mencari inforasi sedemikian mudah lewat internet, toh masih banyak pelajar yang lebih akrab dengan facebook ketimbang Google. Paling-paling mereka baru menelusur via Google manakala dapat tugas dari gurunya. Lebih celaka lagi, ternyata artikel dari internet itu hanya di-copy paste saja.</p>
<p>Adakah penelitian yang mengungkap, bahwa dengan kehadiran internet memiliki korelasi dengan penurunan pengunjung perpustakaan? Atau, justru sebaliknya, karena ada internetlah maka pengunjung perpustakaan justru makin naik. Sebab, ternyata tidak semua hal dapat dijawab secara memuaskan oleh Oom Google, sehingga masih perlu datang ke perpustakaan</p>
<p>Tentu saja, dibutuhkan penelusuran lebih cermat saling kait mengkait antara eksistensi perpustakaan dan Si Google ini. (<strong>henri nurcahyo</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=351</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Daftar Download E-book SAMPOERNA CORNER</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=350</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=350#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 05:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Daftar E-Book SAMPOERNA CORNER
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://pustakaindonesia.org/Buletin/Download%20e-books%20AMA%20&#038;GLOBAL-SC(1).pdf' >Daftar E-Book SAMPOERNA CORNER</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=350</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TBM Cahaya Ilmu Ulang Tahun</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=347</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=347#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 00:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[TBM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Taman Belajar Masyarakat (TBM) Cahaya Ilmu, dusun Pajaran, Desa Gunting, Kec. Sukorejo, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ketiga Sabtu malam (17/7). Acara HUT yang mustinya jatuh sehari sebelumnya itu ditandai dengan tumpengan sederhana, dipimpin oleh Kepala Desa Gunting, Wasimu. Selesai tumpengan, dilanjutkan dengan acara nonton film bersama di jalan raya depan TBM.
Keberadaan TBM ini tergolong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pustakaindonesia.org/wp-content/uploads/2010/07/b1dsc02073.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-348" title="b1dsc02073" src="http://www.pustakaindonesia.org/wp-content/uploads/2010/07/b1dsc02073-300x225.jpg" alt="" width="189" height="142" /></a>Taman Belajar Masyarakat (TBM) Cahaya Ilmu, dusun Pajaran, Desa Gunting, Kec. Sukorejo, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ketiga Sabtu malam (17/7). Acara HUT yang mustinya jatuh sehari sebelumnya itu ditandai dengan tumpengan sederhana, dipimpin oleh Kepala Desa Gunting, Wasimu. Selesai tumpengan, dilanjutkan dengan acara nonton film bersama di jalan raya depan TBM.<span id="more-347"></span></p>
<p>Keberadaan TBM ini tergolong maju diantara 14 TBM yang dikelola YPPI yang bekerjasama dengan Sampoerna. Bukan hanya menyediakan buku bacaan, namun TBM yang dipimpin oleh Rangga ini berhasil mengembangkan  unit usaha berupa pembuatan kerajinan berupa asesoris untuk kebutuhan remaja putri dan ibu-ibu.  (h)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=347</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Silaturahim ke SC  ITS dan Unibraw</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=343</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=343#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 09:26:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sampoerna Corner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Tim Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) melakukan kunjungan ke sudut baca di perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, yang dinamakan Sampoerna Corner (SC), Jumat pagi (16/7). Sehari sebelumnya kunjungan  yang sama dilakukan ke SC Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. 
Tim YPPI terdiri dari Trini Haryanti (Direktur), Wahyu Kurniawan (Divisi Program) dan Henri Nurcahyo (Konsultan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pustakaindonesia.org/wp-content/uploads/2010/07/kunjungan-blog4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-344" title="kunjungan-blog4" src="http://www.pustakaindonesia.org/wp-content/uploads/2010/07/kunjungan-blog4.jpg" alt="" width="283" height="185" /></a>Tim Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) melakukan kunjungan ke sudut baca di perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, yang dinamakan Sampoerna Corner (SC), Jumat pagi (16/7). Sehari sebelumnya kunjungan  yang sama dilakukan ke SC Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. <span id="more-343"></span></p>
<p>Tim YPPI terdiri dari Trini Haryanti (Direktur), Wahyu Kurniawan (Divisi Program) dan Henri Nurcahyo (Konsultan Media). Pihak SC ITS langsung ditemui oleh Mansyur Suteja (Kepala Perpustakaan ITS), Edi (Kepala Divisi Perpustakaan Lt 3,4,5) dan seorang staf lagi.</p>
<p>Dalam silaturahim itu juga sempat didiskusikan bagaimana merancang pengembangan program SC, misalnya membuat pelatihan bersama, kompetisi antar-SC dan sebagainya. SC memang merupakan program YPPI bekerjasama dengan program CSR Sampoerna. Selain di kedua universitas itu, SC juga terdapat di Undip Semarang, UGM Yogyakarta, Unpad Bandung, ITB dan Unsri Palembang. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=343</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pinjam Pakai Buku Perpustakaan</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=331</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=331#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 08:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Semua orang tentu tahu beda perpustakaan dan gudang buku. Tapi dalam prakteknya, banyak perpustakaan yang lebih banyak berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi buku ketimbang sebuah sarana untuk membaca buku. Padahal, elemen utama sebuah perpustakaan adalah pembaca buku, bukan buku itu sendiri.  Jadi, buat apa terus menerus menambah koleksi buku perpustakaan kalau pada akhirnya hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua orang tentu tahu beda perpustakaan dan gudang buku. Tapi dalam prakteknya, banyak perpustakaan yang lebih banyak berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi buku ketimbang sebuah sarana untuk membaca buku. Padahal, elemen utama sebuah perpustakaan adalah pembaca buku, bukan buku itu sendiri.  Jadi, buat apa terus menerus menambah koleksi buku perpustakaan kalau pada akhirnya hanya semakin menguatkan kesan perpustakaan menjadi gudang buku? <span id="more-331"></span></p>
<p>Pinjam Pakai Buku Perpustakaan (PPBP) adalah tawaran program untuk meminimalisasi (bahkan menghapus) kemungkinan perpustakaan menjelma menjadi gudang buku. Maksud program ini adalah, menjadikan semua buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan bukan sebagai milik perpustakaan tersebut melainkan berstatus pinjam dari lembaga tertentu (bisa berupa perpustakaan juga). Karena berstatus pinjam, maka ada kewajiban untuk mengembalikan lagi pada pemiliknya manakala buku-buku tersebut tidak dibaca atau tidak diperlukan lagi. Dengan demikian, buku-buku yang kurang atau tidak diminati itu dapat dipinjamkan lagi ke perpustakaan lain yang kemungkinan lebih membutuhkan jenis bacaan tersebut.</p>
<p>Contohnya begini. Sebuah perpustakaan yang memiliki koleksi ratusan bahkan ribuan buku, tentu tidak semua diminati oleh pengunjungnya. Apalagi, kalau ternyata perpustakaan tersebut minim pengunjung, tidak punya anggota tetap, dan bahkan tidak dikelola dengan cara-cara proaktif. Padahal, bisa jadi perpustakaan tersebut sering mendapat bantuan buku dari banyak lembaga donor, dari instansi lain dan mendapatkan jatah langganan gratis banyak penerbitan. Jenis perpustakaan yang seperti ini memang lebih pantas disebut gudang buku.</p>
<p>Nah, daripada mubadzir, ada baiknya disisihkan sebagian koleksi buku dari perpustakaan tersebut (dalam satu paket) untuk dipinjamkan kepada perpustakaan lain yang masih minim buku. Peminjaman ini dapat dilakukan langsung dalam beberapa paket ke beberapa sasaran sekaligus. Misalnya saja dipinjamkan ke sejumlah perpustakaan sekolah, yang belakangan ini gencar mencari bantuan sumbangan buku gara-gara mengejar target standarisasi sekolah. </p>
<p>Dengan demikian buku-buku yang menjadi koleksi pemilik (perpustakaan) pertama dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh banyak penggemar buku, bukan hanya yang kebetulan mengunjungi perpustakaan awal tersebut. Lebih-lebih manakala satu perpustakaan memiliki koleksi beberapa eksemplar dari judul yang sama, dapat dilakukan penyebaran ke perpustakaan yang lain. </p>
<p>Mengapa dipinjamkan, dan bukan disumbangkan? Supaya pihak peminjam memiliki rasa tanggungjawab untuk memanfaatkan buku-buku tersebut dengan baik, untuk dipinjamkan lagi ke pengunjung atau anggotanya agar dibaca dengan baik. Sedangkan kalau disumbangkan, maka cenderung hanya menjadi koleksi belaka dan semata-mata untuk kebanggaan pengelola perpustakaan atau kepala sekolah misalnya.</p>
<p>Karena statusnya pinjaman, maka pihak pertama (pemilik buku) dapat memberikan batas waktu (misalnya 6 bulan atau satu tahun) untuk dilakukan evaluasi, dan  masa peminjaman dapat diperpanjang kembali. Pada saat evaluasi itulah dapat diketahui, apakah selama masa peminjaman buku-buku tersebut memang diminati pengunjung perpustakaa? Buku apa saja yang paling disukai? Berapa banyak pembacanya dan sebagainya. Data soal ini dapat diketahui dari kartu peminjaman yang tentunya tersedia di masing-masing buku. </p>
<p>Dari data itu, dapat dilakukan penyempurnaan, berupa penarikan buku-buku yang ternyata tidak diminati sama sekali, dan diganti dengan buku-buku lain dengan status pinjam juga. Setelah dilakukan evaluasi di beberapa peminjam, dapat pula dilakukan rotasi peminjaman dari peminjam yang satu untuk dipinjamkan kembali ke peminjam yang lain. </p>
<p>Sementara itu, pihak perpustakaan yang pertama, tetap mendata buku-buku apa saja yang dipinjamkan ke perpustakaan lain dalam program PPBP ini. Data peminjaman ini dibuat terbuka, dapat diakses secara mudah oleh pengunjung, dengan maksud kalau ada yang membutuhkan maka pengunjung dapat mencarinya ke perpustakaan yang menjadi peminjam dari program ini. Dengan kata lain, perpustakaan pertama hanya mengkoleksi katalognya, sedangkan bukunya ada di perpustakaan lain. </p>
<p>PPBP juga bermanfaat untuk pemerataan jumlah dan jenis koleksi buku pada banyak perpustakaan, sehingga tidak terjadi ketimpangan. Jangan sampai satu lembaga memiliki koleksi buku ribuan judul (namun nyaris tanpa pengunjung) sementara ada sejumlah perpustakaan (terutama milik sekolah) yang minim koleksi buku namun banyak punya<br />
pembaca. </p>
<p>Mengenai pihak peminjam dan yang meminjamkan ini memang tidak selalu berada dalam posisi yang tetap. Artinya, perpustakaan A dapat meminjamkan satu paket bukunya kepada perpustakaan B, namun dalam saat yang sama B juga dapat meminjamkan paket yang lain kepada C, kemudian C kepada D untuk paket yang lain lagi, bahkan B kepada D, atau D kepada A dan saling silang menyilang. </p>
<p>Nah, ketika sudah terjalin kerjasama yang erat dalam jaringan pinjam meminjam ini, dapat dilakukan patungan untuk secara bersama-sama membeli 1 (satu) paket buku untuk dipinjamkan secara bergilir kepada perpustakaan anggota jaringan. Sengaja membeli secara patungan, supaya ada rasa sama-sama memiliki, sama-sama punya hak meminjam, sama-sama mengevaluasi perpustakaan mana yang paling banyak peminatnya, dan sebagainya. Lagi pula, sengaja dipinjamkan, dan bukan dimiliki sendiri, supaya buku menjadi “hidup” karena sering dibaca, dan bukan mati kesepian di gudang buku. </p>
<p>Program PPBP ini dapat dilakukan oleh perpustakaan yang memiliki buku berlebih, oleh lembaga tertentu (tanpa harus memiliki perpustakaan), lembaga donor, ataupun pribadi-pribadi penggemar buku dan pecinta perpustakaan. Dengan cara ini maka siapapun yang menyumbang buku untuk koleksi perpustakaan bakal mendapatkan manfaat berlipat. Pertama, dia sudah berbuat amal baik berupa memberikan sumbangan buku. Kedua, dia tahu bahwa buku itu tidak hilang, tetap dirawat dan terus diupayakan “mendatangi” pembacanya. Ketiga, dia sudah melakukan semacam dakwah karena dengan cara seperti ini berarti semakin mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sebab, di setiap buku ada tulisan: “Buku ini milik si A yang diikutkan dalam program Pinjam Pakai Buku Perpustakaan (PPBP).” Bukankah promosi seperti itu juga sama dengan ibadah?</p>
<p>Soal buku yang mendatangi pembaca, itulah yang agaknya sekarang perlu dipikirkan. Sebab selama ini banyak pihak yang cenderung menyalahkan minat baca masyarakat ketika perpustakaan jarang dikunjungi. Memang sudah ada cara mengatasinya, yaitu membuat program perpustakaan keliling. Nah, program PPBP ini setidaknya merupakan alternatif lain yang perlu dicoba.<br />
(<strong>henri nurcahyo</strong>, <em>penggemar buku, tinggal di Sidoarjo</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=331</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memanusiawikan Perpustakaan, Sebuah Paradigma</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=329</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=329#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 08:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[MENYEBUT kata perpustakaan, maka yang terbayangkan adalah deretan buku rapi tertata di rak. Nyaris tak pernah melibatkan pembaca yang justru menjadi penentu hidup matinya sebuah perpustakaan. Pengawasan yang sangat ketat pada perpustakaan telah menempatkan pengunjung dalam posisi calon terdakwa. 
Perpustakaan, memang sudah saatnya diberikan wajah yang manusiawi. Sudah harus dihentikan cara-cara mencurigai pengunjung perpustakaan bagaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MENYEBUT kata perpustakaan, maka yang terbayangkan adalah deretan buku rapi tertata di rak. Nyaris tak pernah melibatkan pembaca yang justru menjadi penentu hidup matinya sebuah perpustakaan. Pengawasan yang sangat ketat pada perpustakaan telah menempatkan pengunjung dalam posisi calon terdakwa. <span id="more-329"></span></p>
<p>Perpustakaan, memang sudah saatnya diberikan wajah yang manusiawi. Sudah harus dihentikan cara-cara mencurigai pengunjung perpustakaan bagaikan pelaku kriminal, sementara pada saat yang sama minat baca bangsa ini masih belum menggembirakan. Memahami perpustakaan ada baiknya ditempatkan sebagai kata kerja, atau setidaknya memandangnya sebagai sesuatu yang hidup, yang tumbuh dan berkembang, dan bukan semata-mata berujud sebuah ruang yang penuh dengan deretan rak penuh buku. </p>
<p>Apa yang selama ini dipelajari oleh kalangan pustakawan adalah bagaimana membuat sistematika koleksi buku yang jelas, rapi dan teratur. Katalogisasi menjadi syarat utama, sehingga tanpa menguasai ilmu itu, seolah-olah seseorang tak berhak menyandang sebutan pustakawan. Itulah sebabnya sistematika penyusunan koleksi buku di perpustakaan seluruh dunia lantas menjadi (dan memang dibuat) sama. Sampai dengan tata cara penulisan nama orang pun, dibuat dengan cara terbalik sebagaimana tradisi budaya Barat. Padahal, sistem nama di Indonesia justru kebalikannya.</p>
<p>Karena koleksi buku menjadi perhatian yang utama, maka keberadaan buku dijaga sedemikian rupa agar tidak sampai rusak atau hilang. Pengunjung perpustakaan harus menitipkan tas dan jaket di dekat pintu masuk. Pengawasan yang dilakukan terhadap pengunjung seringkali sangat berlebihan, kalau perlu menggunakan kamera monitor yang dipasang di sudut-sudut rahasia. Sehingga, perpustakaan tak ubahnya sebuah pusat pertokoan (plasa) dengan penjagaan satpam yang garang.</p>
<p>Seringkali mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), atau apapun namanya, menulis di surat pembaca, meminta bantuan buku untuk membangun perpustakaan di desa setempat. Mereka hanya berpikir tentang bagaimana menghadirkan sebuah ruangan yang diisi dengan koleksi buku atau bacaan lain. Namun yang belum dipikirkan adalah, apakah masyarakat setempat memang sanggup menghidupkan perpustakaan sebagai tempat mencari informasi?</p>
<p>Kalau perpustakaan hanya semata-mata dimaknai sebagai kumpulan buku, katalogisasi dan perangkat keras lainnya, maka makna perpustakaan tak ubahnya bagaikan gudang buku. Perpustakaan yang seperti ini tidak memberikan ruang yang memadai bagi eksistensi pembacanya. Pengunjung perpustakaan disamakan dengan pengunjung mal atau plaza, yang harus dicurigai, diawasi dan diperlakukan sebagai orang luar</p>
<p>Padahal, jujur saja, sesungguhnya hakekat sebuah perpustakaan adalah habitat masyarakat pembaca. Kalau perpustakaan hanya dimaknai sebagai “sebuah ruang penuh dengan buku”, maka lebih baik ada masyarakat pembaca tanpa perpustakaan daripada dibangun perpustakaan namun tidak ada yang berminat memanfaatkannya. Dan sebuah habitat pembaca ini, tetap akan mencari buku atau bahan bacaan, ada atau tidak ada perpustakaan. Sebagaimana sebuah habitat, kebutuhan terhadap buku, informasi dan ilmu pengetahuan akan tetap terus tumbuh dan berkembang tanpa tergantung pada perpustakaan.</p>
<p>Pada tataran ini, habitat pembaca di sebuah desa misalnya, bisa jadi hanya butuh majalah dinding atau koran yang ditempel di papan. Komunitas ini mungkin cukup membaca majalah, koran atau buku koleksi teman-teman sendiri. Karena mereka butuh, maka cenderung ada upaya untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Dengan demikian, kalau saja ada perpustakaan, maka komunitas pembaca seperti itu ibarat murbaut bertemu sekrup. </p>
<p>Komunitas pembaca buku seperti itu sebetulnya dapat dibangun setelah ada perpustakaan. Kalangan pengunjung setia sebuah perpustakaan dapat diorganisasi untuk membentuk kelompok pembaca, kemudian mengatur kegiatannya sendiri dengan semangat menjaga dan menghidupkan perpustakaan yang sama-sama mereka butuhkan selama ini.<br />
***<br />
KALAU dikaji satu persatu problema perpustakaan selama ini adalah sebagai berikut:<br />
Pertama adalah soal keamanan koleksi buku. Dengan adanya Kelompok Pembaca Buku (KPB, katakanlah begitu) dapat meminimalisasi risiko kehilangan buku koleksi perpustakaan. Setiap anggota KPB yang akan meminjam buku diwajibkan harus ada beberapa orang yang siap menanggung risikonya bilamana buku itu hilang atau rusak. Sistem ini meniru cara yang dilakukan di koperasi, yakni yang disebut gandeng renteng. </p>
<p>Memang tidak semua pengunjung perpustakaan yang bersedia menjadi anggota KPB dengan berbagai alasan yang mungkin dapat diterima. Meski demikian, KPB tetap dapat berfungsi untuk membantu mengawasi keberadaan buku koleksi perpustakaan tanpa harus mencurigai pengunjung secara berlebihan. Pengawasan melekat yang dilakukan oleh sesama pengunjung perpustakaan ini jauh lebih manusiawi dan lebih efektif ketimbang berhadapan dengan petugas satpam. </p>
<p>Kedua, tenaga pustakawan sangat terbatas. Dengan adanya KPB dapat membantu tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh petugas perpustakaan. Pihak pengelola dapat berunding secara baik-baik, bidang-bidang kerja apa saja yang memungkinkan dilakukan oleh anggota KPB. Mereka tentu senang mengerjakannya karena hal itu merupakan cerminan rasa ikut memiliki perpustakaan yang mereka cintai. Apalagi kalau pihak pengelola perpustakaan mau membuka kesempatan bagi kalangan pelajar untuk menjadi relawan mengelola perpustakaan ketika pelajar sedang liburan. Dalam hal ini KPB dapat mengorganisasikannya. </p>
<p>Ketiga, koleksi buku terbatas. Hal ini dapat diatasi secara kelembagaan oleh KPB. Mereka dapat bekerjasama dengan penerbit sehingga selalu mendapatkan kiriman buku-buku baru secara gratis dengan kompensasi yang dapat dirundingkan kemudian. Bukan tidak mungkin pihak penerbit akan dengan suka hati memberikan buku dalam jumlah yang cukup banyak, baik gratis atau memberikan potongan yang cukup besar bagi anggota KPB.  Bahkan, KPB juga dapat secara patungan membeli buku-buku baru untuk koleksi bersama di perpustakaan tersebut.</p>
<p>Selama ada kerelaan dari pihak pengelola perpustakaan untuk memberikan rasa ikut memiliki, maka KPB akan dengan senang hati membantu pengadaan koleksi buku. Mereka dapat bergerak leluasa menghubungi pihak-pihak lain, baik instansi ataupun perorangan yang bersedia menyumbangkan buku untuk perpustakaan. Selama ini pengelola perpustakaan cenderung pasif, hanya menunggu partisipasi dari pihak lain. Tanpa bermaksud mengecilkan upaya yang sudah mereka lakukan, namun tetap diperlukan upaya lain yang lebih kreatif dan dengan cara menjemput bola. </p>
<p>Satu hal lagi, ada semacam kewajiban bahwa setiap anggota KPB harus menyerahkan daftar buku (hanya daftarnya) yang menjadi koleksi pribadinya. Daftar ini dikumpulkan dan disusun secara sistematis sehingga dapat menjadi katalog buku tanpa harus ada buku di perpustakaan. Cara ini (sebut saja Perpustakaan Katalog) merupakan langkah kreatif untuk mengatasi keterbatasan koleksi buku. Bagi yang ingin meminjamnya, harus menjadi anggota KPB atau dengan sistem gandeng renteng tersebut di atas. </p>
<p>Keempat, minat baca masih rendah. Itulah sebabnya perlu dibentuk KPB agar dapat menularkan virus senang membaca. Sebagai langkah awal, tidak perlu dalam jumlah besar anggotanya. Namun diperlukan pengelolaan yang dinamis dengan bantuan pihak pengelola perpustakaan. Rendahnya minat baca ini (meski tidak sepenuhnya benar) memang menjadi masalah klasik. Kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan ilmu pengetahuan selama ini memang tidak hanya didapat dari buku. Justru banyak media lain yang lebih efektif, mudah dan murah serta lebih menyenangkan dibanding harus membaca buku. </p>
<p>Dalam kaitan ini kalangan pustakawan harus bersikap legawa bahwa kemajuan teknologi informasi telah berlangsung sedemikian cepat. Perpustakaan memang seharusnya tidak hanya berisi buku-buku konvensional belaka, melainkan ada kaset audio, video, VCD, foto dan slides serta berbagai bentuk dokumentasi lainnya. Dalam perkembangannya sekarang, perpustakaan sudah menyediakan internet sebagai sarana untuk mencari informasi yang canggih. </p>
<p>Kelima, tidak ada dana yang memadai untuk mengembangkan perpustakaan agar dapat menyediakan sarana yang memenuhi standar. Persoalan dana ini memang klise dan cenderung hanya menadahkan tangan tanpa ada upaya menjemput bola. Kalau saja pustakawan dapat mengefektifkan keberadaan KPB maka lebih mudah mengharapkan pihak-pihak lain ikut serta membantu kemajuan perpustakaan. </p>
<p>Bagaimanapun keberadaan KPB hanya akan mendapatkan pengakuan oleh berbagai pihak manakala menjadi organisasi yang hidup. Karena itu KPB dapat mengadakan acara diskusi buku, bekerjasama dengan penerbit untuk membahas buku-buku baru. Bukan tidak mungkin penerbit bersedia memberikan buku gratis (atau potongan harga yang besar) serta mendatangkan penulis buku untuk menjadi narasumber diskusi. Transkrip dan resumenya dapat dicetak dan menjadi bahan bacaan di perpustakaan itu juga. Kegiatan diskusi ini sekaligus mengefektifkan waktu membaca dari para anggotanya. </p>
<p>Akibat lanjutan dari aktivitas ini, pihak media massa dapat dilibatkan untuk meliput semua kegiatan KPB sehingga hal ini sekaligus menjadi media promosi bagi penerbit buku dan kerja public relation yang sangat efektif bagi kepentingan perpustakaan. Apalagi, kalau kemudian KPB tidak sekadar menggelar diskusi,  melainkan juga acara-acara lain yang edukatif, informatif ataupun yang sekadar rekreatif.<br />
***<br />
TERUS terang, apa yang dikemukan di atas memang baru sebatas wacana. Namun setidaknya dapat dicoba untuk membedah persoalan perpustakaan yang selama ini hanya berkutat dari itu ke itu saja. Banyak pustakawan hebat yang sekolah sampai ke luar negeri dengan titel bertumpuk-tumpuk, namun ternyata yang dipelajari hanyalah perpustakaan sebagai kata benda, bukan kata kerja. Mereka justru semakin mempertebal rasa curiga pada pengunjung perpustakaan. </p>
<p>Sepanjang yang penulis ketahui, belum banyak upaya yang dilakukan kalangan pustakawan untuk memberdayakan pembaca atau pengunjung perpustakaan. Mereka (pengunjung) hanya diposisikan sebagai pihak yang justru berada di luar orbit perpustakaan itu sendiri. Padahal, apalah artinya sebuah perpustakaan tanpa ada pengunjung atau pembaca buku?</p>
<p>Sementara keberadaan masyarakat penggemar buku (baca: informasi dan ilmu pengetahuan) tidak selalu membutuhkan kehadiran perpustakaan secara fisik. Bukan tidak mungkin bahwa apa yang disebut “perpustakaan” dapat dihadirkan di sebuah desa tanpa harus ada Gedung Perpustakaan sama sekali. Dalam hal ini yang disebut perpustakaan adalah sebuah komunitas masyarakat baca. Sedangkan keberadaan koleksi buku hanyalah menjadi elemen pelengkap. </p>
<p>Sampai di sini, nampaknya yang perlu diubah adalah menyangkut paradigma pengelolaan perpustakaan itu sendiri. Membayangkan perpustakaan, jangan lagi mengharap ada deretan buku di rak dengan petugas yang dingin, tetapi adanya komunitas masyarakat pembaca yang dinamis, aktif dan bergairah. Manusia harus mendapat urutan pertama, setelah itu baru benda. Apakah pandangan antroposentris ini salah? (<strong>henri nurcahyo, </strong><em>peminat buku</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=329</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sosialisasi dan Pembekalan</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=327</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=327#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 14:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[
Diselenggarakan oleh Yayasan SPMAA ( Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) dihadiri oleh DPR Jawa Timur, DPR Kota, KLH, PSM,NGO, PSM (Pekerjaan Sosial Masyarakat) dan Corporate.
Hotel Sahid, Surabaya, Sabtu Tanggal 3 Juli 2010, Sambutan di sampaikan oleh Direktur SPMAA Bp. Poncowolo Brenggolo, dilanjutkan oleh Kepala Kantor Kementrian Lingkungan Hidup Jawa Timur diwakili oleh Bp. Putu Oktavbiring. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_thCNVYExWhk/TC6qU9kLJeI/AAAAAAAAAL0/98Ky0FiGnDA/s1600/DSCN0289.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5489512272911607266" style="float: left; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 200px; cursor: hand; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_thCNVYExWhk/TC6qU9kLJeI/AAAAAAAAAL0/98Ky0FiGnDA/s200/DSCN0289.JPG" border="0" alt="" /></a></p>
<div>Diselenggarakan oleh Yayasan SPMAA ( Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) dihadiri oleh DPR Jawa Timur, DPR Kota, KLH, PSM,NGO, PSM (Pekerjaan Sosial Masyarakat) dan Corporate.</div>
<p>Hotel Sahid, Surabaya, Sabtu Tanggal 3 Juli 2010, Sambutan di sampaikan oleh Direktur SPMAA Bp. Poncowolo Brenggolo, dilanjutkan oleh Kepala Kantor Kementrian Lingkungan Hidup Jawa Timur diwakili oleh Bp. Putu Oktavbiring. Keynote Speaker Bp. Henry dari KLH Pusat.</p>
<div>Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) diundang SPMAA karena sebagai lembaga yang komitment dalam bidang edukasi. YPPI berharap pertemuan ini sebagai ajang perluasan networking dan peluang kemitraan baik bersama PSM, maupun corporate.</div>
<div>Liputan lebih lengkap silahkan klik di : <a href="http://www.spma.or.id/"><span style="color: #00ff80;">http://www.spma.or.id/</span></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=327</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sosialisasi e-book Sampoerna Corner</title>
		<link>http://www.pustakaindonesia.org/?p=326</link>
		<comments>http://www.pustakaindonesia.org/?p=326#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 00:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>trie</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sampoerna Corner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakaindonesia.org/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[
Undip Semarang pada  tanggal 21 Juni 2010 , pukul 09.30 – 12.00, mengadakan kegiatan sosialisasi  putaran ke II dengan mengundang mahasiswa, ada sekitar 56 mahasiswa dari  berbagai fakultas. Narasumber dari i-group bp. Erik menjelaskan materi koleksi  e-book yang menjadi koleksi Sampoerna Corner dan menjelaskan juga mengenai  Springer-Link yang menjadi koleksi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" href="http://4.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TCfsw_QX5vI/AAAAAAAACLk/sUw9lVvGL4E/s1600/sc1.JPG"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TCfsw_QX5vI/AAAAAAAACLk/sUw9lVvGL4E/s200/sc1.JPG" border="0" alt="" width="200" height="161" /></a></div>
<p><strong>Undip</strong> Semarang pada  tanggal 21 Juni 2010 , pukul 09.30 – 12.00, mengadakan kegiatan sosialisasi  putaran ke II dengan mengundang mahasiswa, ada sekitar 56 mahasiswa dari  berbagai fakultas. Narasumber dari i-group bp. Erik menjelaskan materi koleksi  e-book yang menjadi koleksi Sampoerna Corner dan menjelaskan juga mengenai  Springer-Link yang menjadi koleksi Perpustakaan Undip. Beberapa pertanyaan  seputar kendala tehnis dalam mengakses e-book dijawab dengan baik dan memuaskan  oleh narasumber.<span id="more-326"></span></p>
<p>Bu Ari Kepala Perpustakaan UNDIP memberikan  pengarahan mahasiswa untuk memanfaatkan sebanyak banyaknya fasilitas  Perpustakaan kapanpun.</p>
<p>Sambutan dari YPPI menyampaikan bahwa data grafik  peng-akses e book sangat penting untuk melihat rating pengguna, karena menjadi  indikator kebutuhan civitas, namun yang lebih penting lagi bahwa bagaimana  mahasiswa merasa terbantu dengan adanya e-book yang bisa menunjang proses  belajar menjadi lebih berkualitas.</p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" href="http://2.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TCfs0crXzQI/AAAAAAAACLs/CrXxWUb4xoo/s1600/sc2.JPG"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TCfs0crXzQI/AAAAAAAACLs/CrXxWUb4xoo/s200/sc2.JPG" border="0" alt="" width="200" height="131" /></a></div>
<p>Sosialisasi e-book di  <strong>ITB</strong> diikuti oleh 104 peserta dari 122 yang sudah mendaftar,  bersamaan dengan liburnya mahasiawa, sosialisasi banyak diikuti mahasiswa oleh  Pasca, S3 dan Mahasiswa S-1 sebagian kecil. Dari i-group hadir Treesia dan pak  Helwis yang menjelaskan semua product i-group yang dimiliki ITB, diantaranya  Springer, Scopus, penjelasan secara ditail, tidak saja cara meng-akses tapi  beberapa manfaat, dan penjelasan mengenai beberapa dosen yang menuliskan  Journal.</p>
<p>Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 23  Juni bertempat di cyberlib ITB, ruangan laborat komputer yang berada di samping  Sampoerna Corner. Kegiatan diakhiri pada pukul 12.30 setelah mendengar  penjelasan dari team IT ITB mengenai koleksi lain diluar i-group yang juga  dimiliki ITB.</p>
<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"><a style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" href="http://3.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TCfs24Yu99I/AAAAAAAACL0/OxkuzjH_Rco/s1600/sc3.JPG"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_qnu8iELcJBA/TCfs24Yu99I/AAAAAAAACL0/OxkuzjH_Rco/s200/sc3.JPG" border="0" alt="" width="200" height="150" /></a></div>
<p><strong>UNSRI</strong> mengundang banyak  mahasiswa untuk kegiatan sosialisasi e-book diruang komputer, hadir sekitar 80  mahasiswa kegiatan dilakukan dengan lancar sekalipun tanpa kehadiran nara sumber  dari i-group. Yang memberikan materi sosialisasi dari YPPI mengenalkan mulai  cara mengakses e-book, jenis koleksi, grafik penggunaan, dan proses cetak atau  pengiriman e-book ke teman atau pihak lain yang membutuhkan. UNSRI masih  menduduki rating rendah untuk pengguna e-book karena terkendala dengan bahasa.  Joke yang diberikan oleh YPPI adalah begitu mudah mengakses facebook  dibandingkan ebook.</p>
<p>Dan memang benar dalam waktu tidak lebih dari 1  menit sudah ada 36 mahasiswa yang add nara sumber YPPI melalui face book.</p>
<p>Sesi berikutnya team IT Perpustakaan menjelaskan masalah koleksi yang  tersedia yang merupakan fasilitas dari DIKTI yaitu Garuda , ebsco dan Proquest.</p>
<p>Sebelum sosialisasi dilakukan, ada pengarahan dari bp. Djunaidi yang  menyampaikan bahwa bahasa Inggris sudah harus bisa digunakan oleh semua  mahasiswa untuk komunikasi dan kesiapan dunia kerja. Termasuk bisa akses semua  e-book dan e-journal yang sudah menjadi kebutuhan semua mahasiswa dalam  menunjang proses belajar. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakaindonesia.org/?feed=rss2&amp;p=326</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
